Monday, February 27, 2012

Agama Hindu - Budha di Indonesia (Part 1)


A. Masuknya Agama Hindu-Budha ke Indonesia

1. Penyebaran Agama Budha
Penyebaran Agama Budha lebih awal dari Agama Hindu. Karena Agama Budha bersifat terbuka bagi semua orang. Penyebaran Agama Budha ini disebut Dharmaduta. Dharma adalah apa yang menjadi kewajiban dan beban manusia sebagai anggota masyarakat. Sedangkan duta berarti orang yang menyebarkan. Diperkirakan Agama Budha di Indonesia sudah ada sejak abad kedua. Bukti:
  • Ditemukannya Arca Budha Perunggu di Sempaga, Sulawesi Selatan, dan di Jember. Keduanya berlanggam Amarawati, berasal dari India Selatan.
  • Ditemukannya Arca Budha Batu di Palembang.
2. Penyebaran Agama Hindu
Beberapa teori tentang penyebaran Agama Hindu.
  • Teori Sudra
Dikemukakan olehVan Faber. Menyatakan bahwa penyebar Agama Hindu di Indonesia adalah orang-orang India yang berkasta Sudra.
  • Teori Waisya
Dikemukakan oleh N. J. Krom. Menyatakan bahwa orang-orang kasta Waisya-lah yang menyebarkan Agama Hindu ke Indonesia.
  • Teori Ksatria
Dikemukakan oleh C. C. Berg, J. L. Moens, dan Mookerdji. Menyatakan bahwa orang-orang kasta Ksatri yang menyebarkan Agama Hindu ke Indonesia.
  • Teori Brahmana
Dikemukakan oleh J. C. van Leur dan Nilakantha Shastri. Menyatakan bahwa kaum Brahmana yang telah menyebarkan Agama Hindu ke Indonesia.
  • Teori Arus Balik
Dikemukakan oleh F. D. K. Bosch. Hal ini berdasarkan hubungan maritim dan perda-gangan antara Indonesia dengan India. Melalui hubungan itulah bahasa Sanskerta, hu-ruf Pallawa, dan agama Hindu masuk ke Indonesia. Para Raja Nusantara mendatangkan para Brahmana agar para Raja Nusantara mendapat investiture (pengesahan atau penga-kuan) dari para Raja India.



B. Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia
1. Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia. Letaknya di tepi Sungai Mahakam di Muarakaman, Kalimantan Timur. Kerajaan Kutai berdiri pada abad kelima.
Kerajaan Kutai pernah dipimpin oleh 3 orang raja. Raja pertama ialah Kudungga. Dialah yang mendirikan Kerajaan Kutai. Kemudian ia digantikan oleh putranya, Asmawarman. Asmawarman disebut sebagai Vansakerta atau pembentuk keluarga raja. Raja terakhir yaitu Mulawarman. Pada masa pemerintahannya, Kutai mencapai puncak kejayaan.
Raja Mulawarman pernah memberikan 20.000 ekor sapi dan 1.000 ekor lembu pada kaum Brahmana, demi kemakmuran rakyat.
Bukti sejarah peninggalan Kutai adalah prasasti berbentuk Yupa dan berjumlah tujuh buah. Yupa adalah tugu batu bertuliskan suatu peringatan kepercayaan di daerah Kutai. Tulisan pada Yupa berupa huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Menurut bentuk dan jenis tulisannya berasal dari sekitar tahun 400 M.


2. Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara terletak di tepi Sungai Ciaruteum, Bogor, Jawa Barat. Kerajaan Tarumanegara berdiri pada abad kelima. Rajanya bernama Purnawarman.
Bukti sejarah Tarumanegara adalah dengan ditemukannya 7 buah prasasti. Seluruh pra-sasti bertuliskan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Ketujuh prasasti tersebut adalah Prasasti Tugu, Ciaruteun, Jambu, Kebon Kopi, Pasir Awi, Muara Cianten, dan Cidangiang. Se-lain itu, ada pula berita dari China tulisan Fa-Hien pada tahun + 414 M. Menurut prasasti, agama yang dianut adalah Hindu aliran Waisnawa atau Wisnu.

3. Kerajaan Sriwijaya
Dulu, di Sumatra ada beberapa kerajaan. Diantaranya, Tulang Bawang, Melayu, dan Sriwijaya. Namun, Sriwijaya yang berhasil menjadi negara besar.
Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke tujuh. Awalnya, pusat pemerintahan Sriwijaya berada di Minanga Tamwan. Tapi kemudian dipindahkan ke Jambi, dan akhirnya ke Palembang.
Sriwijaya mempunyai kekuasaan sangat luas. Wilayah Sriwijaya hampir seluruh Nusantara. Sriwijaya banyak menjalin hubungan dengan negara-negara besar lainnya, terutama China dan India.
Faktor pendorong berkembangnya Kerajaan Sriwijaya.
  • Letak strategis.
  • Runtuhnya Kerajaan Funan di Indocina (Vietnam).
  • Memiliki armada laut yang kuat.

Pada abad ke-8 dan ke-9, Sriwijaya mencapai puncak kejayaan saat Balaputradewa dari Wangsa atau Dinasti Syailendra berkuasa. Pada masanya, Agama Budha berkembang pesat. Sriwijaya menjadi pusat penyebaran Agama Budha. Selain itu, ia sering mengirimkan para pemuda ke India untuk belajar lebih dalam, terutama di Nalanda. Balaputradewa membuat asrama atau wihara bagi para pemuda Sriwijaya di Nalanda.
Pada awal abad ke-11, Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran. Faktor penyebab:
  • Alam

Pengendapan lumpur di muara Sungai Musi. Hal ini membuat Sriwijaya semakin jauh dari laut.
  • Ekonomi

Kapal-kapal dagang yang singgah di Palembang semakin jarang.
  • Politik

Banyak daerah yang melepaskan diri dari Sriwijaya.
  • Militer
  1. - Penyerangan Dharmawangsa pada tahun 922.
  2. - Penyerangan Kerajaan Colamandala pada tahun 1023, 1030, dan 1068.
  3. - Kerajaan Singasari menyerang dalam ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275.
  4. - Pada tahun 1377, diduduki Majapahit.

Bukti sejarah Sriwijaya ada beberapa prasasti. Diantaranya Prasasti Kedukan Tinggi, Kota Kapur, Talang Tuwo, Telaga Batu, Karang Berahi, Palas Pasemah, Ligor, dan Nalanda. Dalam prasasti Nalanda, tertulis permintaan Raja Balaputradewa pada Raja Benggala Dewapaladewa di Nalanda untuk mendirikan wihara di Nalanda. Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Sanskerta.

Baca kelanjutan Agama Hindu - Budha di Indonesia (Part 2)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

2 komentar :

Post a Comment

Jika ada pertanyaan, link mati, dan ucapan terima kasih, silahkan isi di kotak komentar...

Jangan lupa laporkan Link mati di tiap postingan! Kami tidak sempat untuk melakukan pengecekan satu persatu.

Site Meter