Thursday, July 19, 2012

Peranan Pers dan Peranan Wanita dalam Pergerakan Nasional


1.       Peranan Pers dalam pergerakan Nasional
a.       Pers milik Pergerakan Nasional
Pada masa pergerakan nasional banyak organisasi pergerakan menerbitkan media cetak (majalah, surat kabar) yang digunakan sebagai alat perjuangan untuk menyebarkan cita-cita kemerdekaan.
Media pers tersebut antara lain:
1.       Majalah Indonesia Merdeka
Majalah Indonesia Merdeka semula bernama Hindia Putra, diterbitkan oleh Indische Vereniging. Perubahan nama terjadi pada tahun 1924. Majalah ini banyak berperan dalam menyebarkan cita-cita meraih kemerdekaan dan mempertebal semangat kebangsaan.
2.       Surat Kabar Utusan Hindia
Utusan Hindia merupakan media persnya SI. Berdiri 26 Januari 1913 di Surabaya. Surat kabar ini artikelnya banyak mengupas dunia pergerakan politik ekonomi dan pemburuhan.
3.       Surat Kabar De Express
De Express terbit pertama tanggal 1 maret 1912, oleh Indische Partij. Artikelnya banyak mengupas tentang masa depan Hindia Belanda.
4.       Surat Kabar Darmo Kondo
Surat kabar ini diterbitkan oleh Budi Utomo. Medkia pers pada masa perjuangan dimaksudkan sebagai media komunikasi antara pergerakan dengan masyarakat luas.
b.      Perkembangan Pers Nasional
Tumbuhnya Pers Nasional ditandai dengan terbitnya Surat Kabar Medan Priyayi pada tahun 1910. Pendirinya Tirtodiharyo, menggunakan bahasa Melayu, sebagai gelanggang untuk memperjuangkan hak-hak rakyat biasa. Oleh pemerintah RI beliau diangkat sebagai Bapak Pers Nasional. Menyusul kemudian terbitnya Cahaya Timur dan Kebangun di Jakarta, Suara Umum di Surabaya, Pewarta Deli di Medan, Utusan Melayu di Medan, Perjuangan di Palembang, Matahari di Surakarta. Tokoh-tokoh pers (wartawan) terkenal pada masa pergerakan nasional antar lain: Ki Hajar Dewantoro, Dr. Sam Ratulangi, Mr. Sumarang, Dr. Danudirjo Setia Budi. H. Agus Salim, Ir. Soekarno, Moh. Hatta dan sebagainya.
2.       Peranan Wanita dalam Pergerakan Nasional
Pada masa pergerakan nasional para wanita Indonesia pun tidak tinggal diam. Mereka berusaha memperjuangkan derajat dan emansipasi wanita. Tokoh yang dianggap sebagai perintis gerakan wanita pada masa itu ialah R.A Kartini dan Dewi Sartika.
Gerakan wanita yang muncul pada masa pergerakan nasional antara lain:
a.       Perkumpulan Kartini Semarang
b.      Putri Mahardika Jakarta
c.       Maju Kemulaiaan Bandung
d.      Wanita Rukun Santosa Malang
e.      Budi Wanita Solo
f.        Kerajinan Amal Setia Kota Gadang
g.       Ina Tuni Ambon, dan sebagainya
Mereka juga menerbitkan majalah, surat kabar dan brosur-brosur. Misalnya: Putri Hindia (Bandung), Sunting Melayu (Bukit Tinggi), Putri Mahardika (Jakarta) dan lain-lain.
Sejalan dengan gerakan pemuda, pada tangal 22 Desember 1928 diselenggarkan Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta. Mereka berhasil membentuk Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI). Peristiwa berhasil terbentuknya PPI ini diperingati sebagai “ Hari Ibu”.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

0 komentar :

Post a Comment

Jika ada pertanyaan, link mati, dan ucapan terima kasih, silahkan isi di kotak komentar...

Jangan lupa laporkan Link mati di tiap postingan! Kami tidak sempat untuk melakukan pengecekan satu persatu.

Site Meter